IMPLEMENTASIKAN MINAT
PADA PROSES PEMBELAJARAN
Erhansyah [1]
SMP Negeri 1
Muara Muntai
Abstrak
Implementasi
minat seseorang yakni siswa terhadap suatu objek tercermin dari aktivitasnya.
Siswa yang mempunyai minat yang tinggi terhadap sebuah objek khususnya mata
pelajaran tentu akan membangkitkan motivasi dan meningkatkan rasa
keingintahuannya terhadap sebuah mata pelajaran. Minat tentu saja dimiliki oleh segenap siswa yang terlibat dalam proses
pembelajaran. Tetapi pemberdayaan minat siswa ini sejatinya harus didorong oleh
komponen proses pembelajaran yang melingkupinya. Sementara motivasi dan
rasa ingin tahu siswa yang tinggi akan meningkatkan pula aktivitas belajarnya
terhadap sebuah mata pelajaran. Dan siswa yang aktivitas belajarnya menguat
akan melahirkan ketercapaian hasil belajar yang maksimal dan dapat mencapai
tujuan yang diinginkan.
Keyword: Minat, Pembelajaran
A. Pendahuluan
Keberhasilan sebuah proses pembelajaran dan tercapainya tujuan dari
proses belajar itu sendiri sesungguhnya banyak faktor yang melingkari sekaligus
saling mempengaruhi. Siswa sebagai objek dan subjek dari proses ini menjadi
komponen yang sangat penting untuk ditelisik keberadaannya baik sumbangan
pengaruh yang datang dari dirinya sendiri maupun yang dampak dari kepiawaian
pengaruh yang berasal dari luar dirinya untuk keberhasilan dan ketercapaian
dari hasil belajarnya.
Minat tentu saja dimiliki oleh segenap siswa yang terlibat dalam proses
pembelajaran. Tetapi pemberdayaan minat siswa ini sejatinya harus didorong oleh
komponen proses pembelajaran yang melingkupinya. Siswa yang mempounyai minat
pas pasan tentu memerlukan dorongan dan pengarahan yang lebih ketimbang siswa
yang mempunyai minat yang tinggi terhadap sebuah proses pembelajaran.
Komponen lain yang berperan penting dalam implementasi minat siswa adalah
menejer kelas yakni guru. Karena meski guru merupakan faktor yang memberikan
sumbangan pengaruh dari luar terhadap
minat siswa, tetapi keberadaannya sangat dibutuhkan untuk memberikan dorongan
dan arahan terhadap siswa terlebih dalam lingkup pendidikan pada level yang
rendah.
Hasil belajar sebagai tujuan akhir dari proses pembelajaran adalah
menjadi tolak ukur untuk kebermaknaan dari kemampuan siswa dan dorongan serta
arahan dari guru dalam mengimplementasikan minat belajar pada diri siswa itu
sendiri.
B.
Peran Guru
Proses pembelajaran
seyogyanya menginginkan sesuatu yang dicapai. Sesuatu yang ingin dicapai itu
disebut dengan tujuan. Dalam perencanaan, pelaksanaannya proses tersebut tentu
saja dipengaruhi oleh beberapa macam faktor. Sebagaimana dikemukakan Sumadi
Suryabrata bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa,
seperti: (a) faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa yaitu
faktor-faktor sosial dan faktor-faktor non sosial, dan (b) faktor-faktor yang
berasal dari dalam diri siswa yaitu faktor-faktor fisiologis dan faktor-faktor
psikologis.[2]
Seorang pengajar atau guru dalam hal ini tentulah faktor yang berada di luar
diri siswa, namun demikian dalam proses sesungguhnya ia dapat mempengaruhi
proses internal yang ada dalam diri siswa itu sendiri. Guru menjadi faktor yang
mempengaruhi hasil belajar siswa karena guru sendiri dalam melaksanakan proses
pembelajarannya diperlukan beberapa syarat sebagaimana menurut Ali bahwa syarat yang perlu dimiliki guru antara
lain : a) penguasaan materi, b)kemampuan menerapkan prinsip-prinsip psikologis,
c) kemampuan menyelenggarakan proses mengajar belajar, dan d) kemampuan
menyesuaikan diri dengan berbagai situasi.[3]
Dengan kemampuan yang ada
pada dirinya tentulah guru memberikan kontribusi dan peran penting serta salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswanya. Dengan
demikian faktor eksternal yakni salah satunya adalah guru memiliki peranan yang
cukup penting mempengaruhi hasil belajar adalah tenaga pengajar (guru) sebagaimana
menurut Cece Wijaya dan A. Tabrani Rusyan bahwa kegiatan pembelajaran di depan siswa
adalah perwujudan interaksi dalam proses komunikasi dan tenaga pengajar sebagai
pemegang kunci sangat menentukan terhadap pencapaian hasilan belajar.[4]
Sedangkan pendapat Nana Syaodih Sukmadinata yang mana pelaksanaan
(implementasi) kurikulum hampir seluruhnya bergantung pada kreativitas,
kecakapan, keterampilan, kesanggupan dan ketekunan tenaga pengajar.[5]
Jadi tegasnya adalah bahwa sebaik-baiknya sebuah kurikulum sebagai kerangka
acuan dalam mencapai tujuan tentu sangat tergantung kepada tenaga pengajar atau
gurunya.
Di luar faktor eksternal
seperti kualitas tenaga pengajar (guru), menurut Dalyono bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi hasil belajar terdapat juga faktor internal siswa yaitu yang
berasal dari dalam diri siswa yaitu (1)
kesehatan (2) intelegensi dan bakat (3) minat dan motivasi (4) cara belajar.[6]
Ketercapaian dan
keberhasilan secara formal legalitas siswa dapat dilihat melalui : (1) hasil belajar
selama di lembaga pendidikan dengan buku raport, dan (2) hasil belajar setelah
lulus dari lembaga pendidikan dengan diterbitkannya ijazah atau surat
keterangan lainnya yang sah menurut undang undang.
Dengan demikian perpaduan
faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi dari proses pembelajaran ini
sesungguhnya menjadi sumber, sekaligus potensi setiap siswa dalam mencapai keberhasilan yang ingin
dicapai.
C. Hasil Belajar Siswa
Pengertian belajar seperti
yang dijelaskan Gagne dan Driscoll adalah perubahan kemampuan dan disposisi
dari seseorang yang dapat dipertahankan dalam suatu waktu tertentu dan bukan
disebabkan oleh proses pertumbuhan. Macam-macam pertumbuhan yang dimaksud dalam
belajar adalah mencakup perubahan tingkah laku setelah seseorang mendapat
berbagai pengalaman dalam berbagai situasi belajar. Berdasarkan
pengalaman-pengalaman itu akan menyebabkan proses perubahan yang terjadi dalam
diri seseorang.[7]
Selain itu dengan pernyataan yang sana menurut Gagne dalam Suprijono[8] menyatakan
bahwa “belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang
melalui aktivitas”.Sependapat dengan itu Gredler[9]
mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses seseorang dalam memperoleh
berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap dan belajar itu tidak datang begitu
saja, tetapi harus dilaksanakan dengan sengaja dalam waktu yang tertentu pula.
Menurut
Suyono dan Hariyanto[10] “belajar adalah suatu aktivitas atau suatu
proses untuk memperoleh pengetahuan, peningkatan keterampilan, memperbaiki
prilaku, sikap, dan mengkokohkan kepribadian”.
Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan kemampuan seseorang dan dapat
dipertahankan dalam kurun waktu tertentu. Berbagai pertumbuhan yang terjadi
dalam belajar itu, seperti perubahan tingkah laku setelah seseorang siswa
mendapat berbagai pengalaman pada berbagai situasi belajar itu sendiri,
sehingga dari berbagai pengalaman itu akan menyebabkan proses perubahan yang
terjadi dalam diri seseorang siswa.
Sedangkan belajar menurut
Sukardi dan Maramis adalah perubahan perilaku siswa secara bertahap, terarah
melalui suatu proses terencana dan bertahap, sehingga siswa pada akhir
pembelajaran kelak mempunyai kemampuan atau keterampilan sesuai dengan apa yang
dituju oleh sistem pembelajaran.[11]
Kemudian menurut Sujana, belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan
adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan
yang dimaksud adalah hasil dari proses yang ditunjukkan dalam berbagai bentuk
berubahan dari aspek: (a) pengetahuan, pemahaman, sikap, minat, dan tingkah
laku seseorang, dan (b) keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta pemahaman
aspek lain yang terdapat pada seseorang peserta didik dalam belajar yang
bersifat relatif menetap.[12]
Maka dengan demikian dapat
ditegaskan bahwa bahwa belajar akan terjadinya perubahan perilaku siswa secara
bertahap, terarah melalui suatu proses terencana dan bertahap, sehingga siswa
pada akhir proses belajarnya mendapatkan kemampuan dan keterampilan sesuai
dengan apa yang telah ditargetkan dalam rencana pembelajaran.
Berdasarkan pendapat para
ahli di atas, maka belajar pada dasarnya ditandai dengan: (1) perubahan
terhadap perilaku, (2) diperolehnya lewat pengalaman, (3) hasilnya relatif
menetap, (4) perubahannya berkaitan aspek fisik dan mental. Penyebab perubahan
perilaku ini tidak diakibatkan oleh proses pertumbuhan yang sifatnya
fisiologis.
Maka untuk itu yang dimaksud
belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang peserta didik yang
berlangsung dalam kurun waktu tertentu, seperti pengetahuan, pemahaman,
keterampilan, nilai, sikap dan minat seseorang peserta didik dari pengalaman
yang diterimanya dari lingkungan dimana terdapat situasi belajar terjadi.
Menurut Brigg hasil belajar
adalah seluruh kecakapan dan hasilnya yang diraih melalui proses pembelajaran
di lembaga pendidikan dan ditetapkan dengan angka-angka yang diukur berdasarkan
test hasil belajar.[13]
Sedangkan Sukardli dan Maramis mengatakan bahwa mengukur adalah menerapkan alat
ukur terhadap objek tertentu. Besaran-besaran angka yang diperoleh, barulah
memperoleh makna apabila dibandingkan hasil pengukuran dengan suatu patokan
tertentu.[14]
Syamsuddin mengemukakan bahwa perbuatan dan hasil belajar ditentukan dalam
bentuk: (a) pertambahan materi pengetahuan yang berupa fakta, (b) penguasaan
bentuk psikomotorik, dan (c) Perbekalan dalam kaitannya dengan kepribadian
seseorang siswa.[15]
Pengukuran menurut Silvarius
adalah suatu proses pemberian angka pada sesuatu atau seseorang berdasarkan
aturan tertentu.[16]
Terdapat empat fungsi pengukuran terhadap mahasiswa seperti yang ditetapkan
Popham, yaitu: (1) untuk
menentukan kelemahan dan kelebihan mahasiswa secara perorangan, (2) untuk
meningkatkan hasil belajar mahasiswa yang memuaskan, dan (3) untuk mengumpulkan
bukti dalam rangka menetapkan peringkat mahasiswa, dan (4) untuk memprediksi
tentang keefektifan pembelajaran yang telah dilaksanakan.[17]
Maka dengan demikian
mengukur adalah menerapkan alat ukur terhadap objek tertentu. Besarnya angka
yang didapatnya, barulah dikatakan bermakna jika dibandingkan hasil pengukuran
dengan sesuatu patokan tertentu. Hasil belajar menurut Romiszowski dapat
ditetapkan dalam tiga kategori, yaitu: kognitif, psikomotorik, dan afektif.
Semua aspek tersebut dapat dikatakan sebagai keterampilan menerima informasi
dan menyalurkan kepada pihak yang lain.[18]
Dari pendapat para ahli di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah sebuah tujuan yang
dicapai setelah mengalami pengalaman dalam kegiatan pembelajaran, sehingga
prinsip-prinsip dari Taksonomi Bloom sangat bermanfaat dalam merancang berbagai
tingkat tujuan pembelajaran. Maka dengan demikian hasil belajar mahasiswa dalam
tulisan ini didasarkan pada konsep Taksonomi Bloom tersebut yang mengklasifikan
hasil belajar di sekolah berdasarkan konsep taksonami bloom yang meliputi tiga
ranah, yaitu: (1) kognitif, adalah yang berhubungan dengan kemampuan berfikir,
(2) afektif, adalah yang berkenaan dengan minat, sikap dan perasaan, dan (3)
psikomotorik, adalah yang berkaitan dengan kemampuan gerak.[19] Kemudian menurut Davies yang menyatakan bahwa tujuan khusus
pendidikan/pembelajaran secara luas dapat dikelompokkan ke dalam salah-satu
dari tiga kelompok tujuan seperti berikut ini, yaitu: (1) tujuan kognitif,
adalah yang berhubungan dengan informasi dan pengatahuan, karena itu usaha
untuk tercapainya tujuan kognitif adalah suatu kegiatan pokok program
pendidikan dan pelatuhan, (2) tujuan afektif, adalah yang menekankan pada sikap
dan nilai, perasaan san emisi, dan (3) tujuan psikomotorik, adalah yang
berhubungan dengan keterampilan motorik, manipulasi benda, atau kegiatan yang
memerlukan koordinasi saraf dan anggota badan.[20]
Dari uraian di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil belajar yang diraih siswa
setelah mengalami pengalaman belajar dalam sebuah mata pelajaran yang telah
diikutinya.
D. Pengaruh Minat Terhadap Pencapaian Hasil Belajar Siswa
Menurut Syah[21] minat
adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar
terhadap sesuatu. Sementara itu Slameto [22] mengatakan
bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal
atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
Menurut
Djamarah[23]
pendidikan yang paling efektif untuk membangkitkan minat belajar pada siswa
adalah dengan menggunakan minat- minat siswa yang telah ada dan membentuk
minat-minat baru pada diri siswa. Hal ini dapat dicapai dengan jalan memberikan
informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan
diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu, menguraikan kegunaan bagi siswa
dimasa yang akan datang. Minat dapat dibangkitkan dengan cara menghubungkan
materi pelajaran dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui
kebanyakan siswa.
Minat
menurut pendapat Skinner adalah suatu dorongan yang menunjukkan perhatian
seseorang terhadap objek yang menarik, menyenangkan apabila seseorang
memperhatikan suatu objek yang menyenangkan, maka akan berupaya dengan aktif
untuk meraih objek tersebut.[24]
Dengan demikian, seseorang baru dapat diketahui minatnya, apabila ia
berkeinginan atau menyukai sesuatu objek atau minat seseorang dapat dibaca jika
ia memperlihatkan rasa suka atau senangnya kepada suatu objek tersebut.
Berkaitan dengan tinggi dan
rendahnya minat seseorang terhadap suatu objek tertentu sangat berhubungan
dengan yang membutuhkan objek tersebut.[25]
Menurut Ahmadi berkaitan dengan pentingnya minat siswa dalam belajar, karena
sesuatu mata pelajaran dapat dipelajari dengan baik apabila ada pemusatan
perhatian (niat) terhadap mata pelajaran, dan minat merupakan salah satu faktor
yang mungkin terjadinya konsentrasi itu terjadi.[26]
Sejalan dengan itu, Hasaini dan Nur mengemukakan bahwa minat adalah perhatian
yang mengandung unsur-unsur perasaan seseorang.[27]
Berdasarkan uraian di atas
dapat dikatakan bahwa minat itu bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir,
tetapi lahir dari pengalaman belajar siswa, karena minat merupakan manifestasi
dari hasil belajar yang lahir dari siswa akibat interaksi minat yang ada dalam
lingkungannya. Pada minat juga dapat mengalami perubahan sesuai dengan
perubahan status, tanggung jawab, dan cara hidup seseorang siswa.
Dari Mulyasa menjelaskan
bahwa minat adalah kecenderungan seseorang dalam mengerjakan sesuatu perbuatan,
seperti minat untuk mempelajari sesuatu dalam hal membaca, menulis, atau
berdiskusi.[28]
Sedangkan Fajar menjelaskan bahwa situasi pembelajaran berlangsung efektif bila
adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Dengan demikian, maka minat siswa
sangat besar pengaruhnya dalam belajar, karena dengan adanya minat siswa akan
mengerjakan sesuatu yang diminatinya. Begitu juga sebaliknya bagi siswa yang
tidak berminat, maka tidak akan melakukan sesuatu dalam kegiatan belajar.
Dengan demikian setiap siswa haruslah mempunyai minat dalam belajar dan tenaga
pengajar seharusnya berupaya untuk membangkitkan minat siswanya dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran.[29]
Menurut Mulyasa bahwa
kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap
sesuatu, yang kemudian dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar dalam mata
pelajaran tertentu dan itulah yang dimaksud dengan minat.[30]
Proses pembelajaran sebuah
mata pelajaran mempunyai hubungan yang erat dengan kondisi individu atau siwwa
sebagai subjek dan objek pendidikan. Ketika siswa merasa senang dan gembira
dalam melakoni proses tersebut maka proses belajar akan terkondisi dengan baik.
Kegembiraan dan kesenangan siswa
tentulah diawali dengan kemauan untuk belajar dan itu semua diawali dengan
minat siswa dimaksud. Siswa yang mempunyai minat tentulah membuat proses
penerimaan materi pelajaran akan berjalan antusias dan menyenangkan, sehingga
pada gilirannnya akan membuat siswa rajin belajar, tercipta dorongan untuk
berkarya dan beraktivitas positif dikarenakan terjadinya dorongan yang
signifikan dalam dirinya.
E. Penutup
Implementasi minat seseorang
yakni siswa terhadap suatu objek tercermin dari aktivitasnya. Siswa yang
mempunyai minat yang tinggi terhadap sebuah objek khususnya mata pelajaran
tentu akan membangkitkan motivasi dan meningkatkan rasa keingintahuannya
terhadap sebuah mata pelajaran. Motivasi dan rasa ingin tahu siswa yang tinggi
akan meningkatkan pula aktivitas belajarnya terhadap sebuah mata pelajaran. Dan
siswa yang aktivitas belajarnya menguat akan melahirkan ketercapaian hasil
belajar yang maksimal dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, Teknik Belajar Yang Efektif. Jakarta: Rineka
Cipta, 1991.
Brigg, Lislie J., Instructional Design and Applications.
Englewood, NJ: EducationalTechnology Publication, Inc, 1979.
Crowl, Thomas K., Educational Psychology Window in Teaching.
New York: Brownand Benchmark, 1996.
Fajar, Ernie, Portofolio Dalam Pelajaran IPS. Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2002.
Gagne, Robert M. dan Merey Perkins Driscoll, Essential of
Leaning for Instruction. Englewood Cliff. N.J: Prentice Hall, 1988.
Gredler, Margareth E. Mell, Leaning and Instruction: Theory
Into Practice. New York : Maemillan, 1986.
Hasaini dan Nur, Himpunan Istilah Psikologi. Jakarta:
Mutiara Sumber Widya, 1986. Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi:
Konsep Karakteristik dan Implementasi.Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004.
______,Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK.
Bandung: RemajaRosda Karya, 2004.
Rooijakkers, Ad., Mengajar dengan Sukses. Jakarta:
Gramedia, 1990.
Rowinszowski, Designing Intructional System Decision Making in
Course Planning. New York, Nicholas Publishing, 1981.
Skinner, Charles E., Educational Psychology. Toronto :
Prentice Hal, 1976.
Sujana, Nana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar
Mengajar. Bandung : Sinar Baru, 1988.
Sukardi, E. dan W. F. Maramis, Penilaian Keberhasilan Belajar. Surabaya:
Airlangga University Press, 1996.
Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Rajawali, 1990.
Syaiful Bahri, Psikologi Pendidikan Hasil Belajar. Jakarta:
PT Rineka Cipta. Indra. 2009
Syamsuddin, Abin, Pedoman Studi Psikologi Kepribadian.
Bandung : IKIP Bandung, 1990.
[1]
Penulis Guru PAI SMPN 1
Muara Muntai Kutai Kartanegara dan Alumni Pascasarjana IAIN Samarinda
Kalimantan Timur
[2]
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan,
(Jakarta: Rajawali, 1990), h. 249
[3]Ali, Muhammad, Guru dalam
Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo. 1987), h.7)
[4]Cece
Wijaya dan A. Tabrani Rusyan, Kemampuan
Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Remaja Rosda Karya,
1992), h. 5
[5]Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan
Kurikulum : Teori dan Praktek, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1997), h. 200
[6]
Dalyono, Psikologi
Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007) h. 55
[7]
Robert
M. Gagne dan Merey Perkins Driscoll, Esensial
of Learning for Instruction (Englewood Cliff. NJ : Prentice Hall, 1988), h.
4
[8]Suprijono, A, Cooperative Learning, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2013), h. 2
[9]Margareth E. Mell Gredler, Leaning and
Instruction: Theory Into Practice, ( New York: Maemilan, 1986), h. 2
[10]Suyono dan Hariyanto. (2012). Belajar dan Pembelajaran. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012),
h.9
[11]E. Sukardi Dan W. F. Maramis, Penilaian
Keberhasilan Belajar, (Surabaya: Airlangga University Press, 1996), h. 91
[12]Nana Sujana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam
Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru, 1988). h. 6
[13]Lislie J. Brigg, Instructional Design and
Applications ( Englewood, NJ : Educational Technologi Publication, Inc,
1979 ), h. 150
[14]E. Sukardi Dan W. F. Maramis, Penilaian
Keberhasilan Belajar, ( Surabaya: Airlangga University Press, 1996 ), h. 69
[15]
Abin Syamsuddin, Pedoman Studi Psikologi
Kepribadian, ( Bandung: IKIP Negeri Bandung, 1990), h. 9
[16]Suke Silvarius, Evaluasi Hasil Belajar dan
Umpan Balik (Jakarta: Grasindo, 1991), h. 6
[17]
W. James Popham, Classroom Assessment: What
Teacher Need To Know (Boston: Allyn and Bacon, 1995), h. 5
[18]Rowinszowski, Designing Intructional System
Decision Making in Course Planning (New York, Nicholas Publishing, 1981),
h.250
[19]W. S. Winkel, Psikologi Pembelajaran
(Jakarta: Grasindo, 2004 ), h. 245
[20]Ivor K. Davies, Pengelolaan Belajar
(Jakarta: Rajawali, 1991), h. 97
[21]Syah, M. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2011), h. 152
[22]
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta:
Rineka cipta, 2010), h. 180
[23]
Syaiful Bahri. (2011). Psikologi Pendidikan Hasil Belajar.( Jakarta: PT Rineka Cipta. Indra.
2009), h. 158
[24]
Charles E. Skinner, Educational Psychology
(Toronto : Prentice Hal, 1976), h. 335
[25]Thomas K. Crowl, Educational Psychology
Window in Teaching (New York: Brown and Benchmark, 1996), h. 94
[26]Abu Ahmadi, Teknik Belajar Yang Efektif,
(Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 6
[27]Hasaini dan Nur, Himpunan Istilah Psikologi,
(Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1986), h. 91
[28]E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi
Konsep Karakteristik dan Implementasi, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), h.194
[29]Ernie Fajar, Portofolio dalam Pelajaran
IPS, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 12
[30]E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004:
Panduan Pembelajaran KBK ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), h. 194
Tidak ada komentar:
Posting Komentar