PUBLIKASI ILMIYAH

Idul Fithri dan Ciri ciri Orang Yang Bertaqwa

Selasa, 02 Juni 2020

Idul Fithri dan Ciri ciri Orang Yang Bertaqwa


Hadirin Raimakumullah..
Marilah kembali kita panjatkan kesyukuran kita kepada Allah atas segala ni’mat yang diberikan kepada kita. Terutama pada hari ini, setelah kita menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan, kita berkumpul di sini untuk duduk bersimpuh mengagungkan Asma-Nya, menyatakan dan mempersaksikan kebesaran-Nya. Sungguh Maha Besar Allah yang kebesaran-Nya tak tertandingi. Sungguh Maha Pemurah Allah yang nikmatnya tak akan  pernah terhitung.
Idul Fitri tiba ketika umat Islam menjalankan ibadah wajib puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sepanjang bulan suci tersebut, kita menahan lapar, haus, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam.
Pelaksanaan ibadah puasa seperti ini tentu bukan hal yang asing lagi bagi kita, karena selalu kita lakukan tahun demi tahun.
Akan halnya pada tahun ini pelaksanaan ibadah puasa tentu terasa berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, karena kita berada ditengah mewabahnya pandemi covid 19 yang menerpa hampir diseluruh belahan dunia. Berbagai macam pola kehidupan sosial tercipta untuk menghadang ganasnya virus yang dikenal dengan nama corona itu, bahkan kondisi ini berimbas kepada amaliah ramadhan yang telah kita lalui bersama.  
Kini Ramadhan telah berlalu. Ramadhan adalah Ramadhan, ia tentu tidak akan tergerus oleh masifx virus yang sebagian membawa ajal ummat manusia. Ramadhan tetaplah ia hadir sebagai wahana penempaan diri penghuni bumi ini dan senantiasa melimpahkannya rahmat (rahmah), ampunan (maghfirah), dan pembebasan dari api neraka (itqun minan nâr).
Ramadhan tetaplah bertujuan untuk membentuk pribadi pribadi taqwa sebagai hasil dari aktivitas yang dilakukan selama sebulan penuh. Sebagaimana terdapat di al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Takwa merupakan standar paling tinggi tingkat kemuliaan manusia. Seberapa tinggi derajat mulia manusia tergantung pada seberapa tinggi takwanya. Inna akramakum ‘indallâhi atqâkum.
Dalam konteks puasa Ramadhan, tentu takwa tak bisa digapai dengan sebatas menahan lapar dan dahaga saja. Ada yang lebih substansial, ada yang lebih pokok, ada yang lebih inti,  yang perlu ditahan, yakni ketergantungnya manusia kepada hal-hal selain Allah swt. Ketidak berdayaan kita menahan ketergantungan kepada selain Allah swt nenyebabkan dirinya tidak mampu menahan untuk berbuat aniyaya terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.
Orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh akan mencegah dirinya dari segala macam perbuatan tercela dan senantiasa memacu dirinya untuk beramal sholeh. Tanpa itu, puasa kita mungkin sah secara fiqih, tapi belum tentu berharga di mata Allah subhanahu wata’ala.
Rasulullah sendiri pernah bersabda: كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad)
الله اكبر الله اكبر الله اكبر  ولله الحمد
Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Jika Ramadhan hadir untuk manusia dalam rangka menggapai derajat adalah takwa, maka ada 3 ciri orang yang bertakwa yang erat kaitannya dengan ibadah ramadhan yang saja usai kita lakukan
Ciri ciri orang yang bertaqwa yang sesuai dengan ibadah ramadhan sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah swt  dalam Surat Ali Imran:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـــافِينَ عَنِ النَّــاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُـحْسِنِــينَ
(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat sarrâ’ (senang) dan pada saat dlarrâ’ (susah), dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134)
Pada ayat tersebut tergambar jelas bahwa 3 ciri orang yang bertaqwa itu adalah :
Pertama, gemar menyedekahkan sebagian hartanya dalam kondisi senang ataupun sulit. Orang bertakwa tidak akan sibuk hanya memikirkan diri sendiri. Ia mesti berjiwa sosial, menaruh empati kepada sesama, serta rela berkorban untuk orang lain dalam setiap keadaan. Bahkan, ia tidak hanya suka memberi kepada orang yang dicintainya, tapi juga kepada orang-orang memang membutuhkan.
Dalam konteks Ramadhan dan Idul Fitri, sifat takwa pertama ini sebenarnya sudah tercermin  melalui ajaran zakat fitrah. Zakat fitrah merupakan simbol bahwa puasa harus ditandai dengan mengorbankan sebagian kekayaan kita dan menaruh kepedulian kepada mereka yang lemah. Ayat tersebut menggunakan fi’il mudhari’ yunfiqûna yang bermakna aktivitas itu berlangsung konstan/terus-menerus. Dari sini, dapat dipahami bahwa zakat fitrah hanyalah awal bagi segenap kepedulian sosial tanpa henti pada bulan-bulan berikutnya.
Ciri kedua orang bertakwa adalah mampu menahan amarah.
Marah merupakan gejala manusiawi. Tapi orang-orang yang bertakwa tidak akan mengumbar marah begitu saja.  Ramadhan adalah melatih kita untuk berlapang dada, bijak sana, dan tetap sejuk menghadapi situasi sepanas apa pun termasuk didalamnya menahan diri dari sifat amarah.
Ciri ketiga orang bertakwa adalah memaafkan kesalahan orang lain. Sepanjang Ramadhan, umat Islam paling dianjurkan memperbanyak permohonan maaf kepada Allah dengan membaca:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku.”
Kata ‘afw (maaf) diulang tiga kali dalam kalimat tersebut, menunjukkan bahwa manusia memohon dengan sangat serius ampunan dari Allah SWT. Memohon ampun merupakan bukti kerendahan diri di hadapan-Nya sebagai hamba yang banyak kesalahan dan tak suci. Cara ini, bila dipraktikkan dengan penuh pengahayatan, sebenarnya melatih orang selama Ramadhan tentang pentingnya maaf.  
Bila diri kita sendiri saja tak mungkin suci dari kesalahan, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau memaafkan kesalahan orang lain. Maaf merupakan sesuatu yang singkat namun bisa terasa sangat berat manakala kita tidak mampu menggalkan persoalan ego, gengsi, dan unsur-unsur nafsu lainnya.
Mana kala ketiga sifat tersebut, yakni menginfakkan hartanya baik dikala senang maupun sengsara, mampu mengendalikan amarahnya dan berjiwa besar memaafkan siapa saja dan kapan saja sudah melekat pada diri kita, maka Ramadhan tentu menjadikan kita sebagai orang yang mempunyai predikat taqwa لعلكم تــتــقـون.
الله اكبر الله اكبر الله اكبر  ولله الحمد
Hadirin wal hadirat ... mari kita sejenak menengok ke kanan dan ke kiri kita.
Ternyata kesalahan dan khilaf kita bukan hanya pada Allah Ta’ala.
Mari kita ingat ketika orang tua memanggil kita .. dan kita tidak bersegera menjawab seruannya. Sekarang,  yang ada hanya penyesalan. Mungkin sebagian mereka sudah terbaring tak berdaya, atau sudah melangkah di alam baqa. Bagaimana kita bertaubat untuk kehilafan dan kesaahan ini, bagaimana pula kita  memohonkan ampun dan maaf kepada mereka?
Kenanglah saat kita meninggikan suara di hadapan mereka. Saat permintaan kita didahulukan dari keinginan mereka. Merekapun berderai airmata.. di raut wajah mereka yang menyimpan kecewa.  Namun DOA tetap mengalir indah dari lidah mereka untuk kita..
Ya Allah, ampunilah segala kesalahan dan khilaf kami. Jadikan ini penyesalan kami hari ini dapat mengubah segalanya. Sungguh kami merindukan kedua orangtua kami. Kami ingat senyumnya. Betapa hangat pelukan genggamannya. Betapapun resah dan gelisahnya kehidupan kami, akan berubah tenang ketika di hadapan mereka dengan belaian dan kasih sayang mereka.  
Mari kita ingat pasangan kita. Betapa banyak hak mereka pada diri kita. Sebaik-baik syafaat bagi seorang perempuan, adalah ridha suami mereka. Demikian Baginda Nabi Saw bersabda. Sebaik-baik laki-laki adalah yang paling memuliakan istri mereka. Demikian hadits Baginda Saw yang lainnya. Sudahkah para istri beroleh keridhaan suami mereka? Sudahkah para suami memperlakukan para istri dengan mulia? Mari kita kenang semua itu. Kerja keras mereka, kesetiaan mereka, kepatuhan  mereka, setiap doa, setiap ungkap cinta kasih mereka. Hari ini mari bertaubat dengan berniat untuk mengubah setiap laku kita. Lebih menahan diri, lebih bersabar, sebagaimana bulan suci telah mendidik kita untuk bersabar. 
Mari kita ingat anak-anak kita. Betapa banyak kesempatan bercengkerama dengan mereka direnggut oleh kesibukan kita. Betapa banyak hasrat pelukan mereka, tertahan keengganan kita. Betapa waktu cepat berlalu, dan kita kehilangan senyum dan canda itu. Entah kapan. Entah mengapa. Betapa dunia telah mengalihkan kita dari mereka. Padahal pada anak kitalah letaknya sebaik-baik kebahagian. Betapa sering kita limpahkan kecewa kita pada orang lain di telinga mereka. Kerasnya kehidupan kita tak membuat kita berlaku lemah lembut pada mereka.
Jika semua itu kehilafan kami, ampuni kami Ya Allah. Jadikan penyesesalan kami hari ini menjadi kebaikan dan kebahagiaan untuk masa depan generasi kami selanjutnya
الله اكبر الله اكبر الله اكبر  ولله الحمد
Mari kita ingat keluarga kita, sanak saudara, handai taulan dan tetangga. Mari kita ingat guru-guru kita dan mereka yang meringankan pekerjaan dan membantu hidup kita. Mari kita ingat sesama anak bangsa, sesama saudara seagama. Betapa banyak yang berbuat baik pada kita dan tidak sempat kita ucapkan hanya sekedar terima kasih kita. Ada yang meminta maaf dan tidak kita terima maaf mereka. Ada yang sakit yang tidak kita kunjungi dan antarkan doa. Ada yang berpulang, dan kepada keluarganya tidak kita ucapkan belasungkawa.
Mari kita ingat saudara kita, yang kini tak lagi berhari raya bersama. Sebagian mendahului kita ke alam baka. Setahun lalu masih kita ingat candanya. Sebulan lalu masih kita lihat senyumnya. Seminggu lalu masih membekas pesannya. Dan mari kita ingat kesalahan kita pada mereka.
Mari kita ingat mereka yang kita sakiti dengan lisan kita. Dengan tuduhan tak berdasar pada status media sosial kita. Dengan ujaran kebencian, fitnah, dusta, yang mungkin kita sebarkan atas satu kaum dengan jari kita. Bagaimana mungkin memohonkan maaf mereka?
Ya Allah, perkenankan kami berdoa di awal syukur kami di hari raya ini. Jadikan setiap penysesalan kami pada hari ini menjadi kebaikan untuk kedua orangtua kami, keluarga dan anak-anak kami dan setiap orang yang punya hak atas diri kami.
Karuniakan pada kami kemampuan untuk menjaga taubat kami dalam amal salih yang kami syukuri, yang mengantarkan kami pada nikmat yang abadi, di surgaMu nanti.
الله اكبر الله اكبر الله اكبر  ولله الحمد

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَاتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ




Tidak ada komentar:

Posting Komentar